moved!
22 Apr 2012 Leave a Comment
I deleted most of my childish and galau posts here ![]()
And I won’t write here again I guess.
Move to the new one on annisavega.wordpress.com
Ciaoo
TL4102-Perencanaan Bangunan Pengolah Air Limbah (PBPAL)
05 Oct 2011 Leave a Comment
PENGANTAR PENGOLAHAN AIR LIMBAH
Yard Piping & Hydraulic Profile
Manajemen Teknik Lingkungan (MANTEL)
05 Oct 2011 Leave a Comment
Pendahuluan
Perk manajemen
Prinsip organisasi kerja
Manajer
Manajemen Proyek
Aspek SDM
SWOT
SWOT revisi
Sikl Hdp Proy & Manaj
Renc mantel 2011
Proses manajemen
Setelah 20 tahun
04 Aug 2010 10 Comments
Kata mama, dulu aku lahir saat musim kejadian bayi tertukar. Aku lahir pada tahun 1990. Sekitar akhir tahun 80-an ada satu kejadian yang cukup menghebohkan mengenai bayi tertukar, yaitu kasus Si Cipluk. Jika tertarik membaca kisahnya, ini linknya (http://dekade80.blogspot.com/2009/05/dewi-dan-cipluk-kisah-bayi-yang.html).
*******************
Saat detik-detik aku dilahirkan, kebetulan bukan hanya mama yang berjuang mati-matian di dalam ruang bersalin. Ada seorang ibu lain yang juga sedang berjuang di seberang tempat tidur mamaku, sebut saja namanya Ibu A. Singkat cerita, aku dan anak si Ibu A lahir pada saat yang hampir bersamaan. Jika perawat disana lalai, jika Tuhan berencana lain, bisa saja aku dan bayi si Ibu A tertukar, seperti kasus Si Cipluk itu. Dan aku tidak akan pernah mengalami kehidupanku yang sekarang, aku tidak akan pernah pernah menulis blog ini. Entah jalan mana yang akan aku tempuh. Wallahua’lam. Karena alasan itulah Mama bilang aku harus bersyukur memiliki tanda lahir (tahi lalat berdiameter 2,5 cm alias tompel atau tembong dan sebangsanya) di dagu. ![]()

Pada dasarnya aku nggak pernah mempermasalahkan kehadiran si item kecil ini. I don’t care. I am still Vega
Mungkin waktu SD dulu aku suka merasa malu, saat jamannya ledek-ledekan. Yah namanya masih anak-anak. Belum mengerti yang namanya bercanda, belum bisa ngontrol emosi dan sebagainya. Dulu sempat ada teman cowo yang bilang gini, “Kalau si Vega nggak punya tompel, aku suka deh.” Yang ngomong itu anak cowo yang bisa dibilang paling imut di SD (flirting-an gue). Hahaha.. Maaf agak melenceng dari topik. Akhirnya dulu itu aku suka nutup-nutupin dagu pake ujung jilbab
Dan kemudian itu menjadi semacam kebiasaan atau refleks.
Dulu itu, saat masih SD sampai awal SMP, aku paling kesel kalau diliatin atau dikatain sama anak kecil. Kadang kalau ketemu balita, mereka suka ngeliatin aku dengan ekspresi bingung terus narik-narik baju mamanya sambil bertanya “Ma, kakak itu disininya kenapa?”, sambil nunjuk-nunjuk dagu. Dan dulu, hal-hal seperti itu cukup membuat aku sangat malu. Kadang kalau aku berpapasan dengan anak-anak seumuranku atau dibawahku, sering kali mereka meneriaki atau berbisik “Tompel..Tompel..” atau ejekan sejenisnya. Dulu aku belum bisa menerima perlakuan semacam itu. Aku suka merasa malu dan menyimpan rasa kesal.
Tapi nggak selamanya si item kecil ini buat aku kesal. Sometimes it makes me smile. Pernah dulu waktu aku masih SD, saat perjalanan pulang, di angkot hanya ada aku dan dua orang kakak-beradik yang cantik. Si Adik umurnya sekitar 4 tahun dan Si Kakak seumuran anak SMP. Tiba-tiba Si Adik ngomong sama kakaknya sambil menunjukku, “Kak, kakak yang itu dagunya kenapa sih?” Dengan sudut mata bisa kulihat Si Adik memandangku dengan heran. Waktu itu aku merasa maluuuuu banget, kupalingkan mukaku pura-pura tidak mendengar. Kemudian Si Kakak menjawab dengan lembut, “Shhh.. Kamu nggak boleh gitu.. Nggak sopan.. Liat deh, kakak itu cantik lo. Malah dengan tahi lalatnya jadi tambah manis.” Kulirik mereka dan kulihat Si Adik mengamati dan mengangguk tersenyum. Mungkin itu cuma hal yang biasa, karena orang-orang dewasa yang kutemui biasanya juga mengatakan hal semacam bahwa tahi lalatku itu pemanis. Tapi entah kenapa aku menangkap rasa tulus dari Si Kakak, bukan rasa iba atau heran. Dan entah kenapa aku selalu senang mengingatnya
Seiring dengan bertambahnya umurku, I know that it shouldn’t be a problem. It is just a small black spot in my chin. There is nothing to matters about
Saat SMP dan SMA aku punya berbagai macam panggilan karena si item kecil ini. Mulai dari Tompel, Mbong (dari kata Tembong), Jenggot, Tatu (karena si item terlihat seperti tato polkadot), sampai Tom Heng (kependekan dari Tompel Heng). Mungkin orang lain yang mendengar panggilan ini akan merasa sedikit kasihan melihatku. Tapi entah kenapa aku merasa senang. Membuatku merasa bahwa orang lain menganggapku sama, tidak ada yang perlu disegani
And I miss it when I am in college, when there isn’t someone who talk about it, that small-black-spot. Aku merasa mereka menghindariku. Maybe you think that it is good. But I miss those joke :* Hehe
Jika dulu aku selalu cemberut kalau ada anak-anak yang bertanya heran sama mamanya saat melihatku, sekarang aku selalu menganggapnya lucu dan membalasnya dengan senyum atau tawa. I am happy to have it.
I used to wonder how if I don’t have this tiny-black-spot? Apakah hidupku akan berbeda dari sekarang? Maybe I could attract some guys? Or dating with nice guys? Hahaha.. Terkadang opsi operasi sempat terlintas. Tapi entah kenapa pilihan itu kadang masih berada dalam area abu-abu di pikiranku. I am not sure that it is a best choice. Satu hal lagi yang kutakutkan adalah hukuman dari Allah. Dia menciptakan makhluk-Nya pasti dengan alasan. Alasan yang terkadang tidak diketahui manusia. Aku percaya segala sesuatu yang diberi-Nya adalah nikmat, termasuk tanda lahirku. Jika aku menghilangkannya, aku takut Dia akan memberiku nikmat lain berupa cobaan. Tapi nggak munafik, keinginan untuk menghilangkannya tetap ada, walaupun sedikit. I am an ordinary girl.Sempat aku berpikir untuk menghilangkannya setelah menikah. I need it to find a right boy who accept as I really am, menerimaku apa adanya.
Because I know boys are boys. The first impression is so important. And with this black spot? Well, I don’t think so. So, I need it to find him. A boy who loves me without conditions, who loves my small-black-spot, who loves me because I am Vega
Biasanya orangtuaku tidak pernah mempermasalahkan si item. Tapi entah kenapa sejak setahun lalu Papa rajin menyuruhku untuk ke Penang, untuk operasi. Dan sepertinya itu semua karena Mark, Si Bule temen Papa, yang berulang kali menganjurkanku untuk operasi. Dia bilang gini. “Hey, you should see the doctor. That black spot can be dangerous. In Europe, people will look at you curiously. Whoaa. It can be a cancer, bla bla bla.” Entah karena dia bule atau apa, semenjak itu Papa juga jadi rajin menyuruhku operasi. At first, I don’t want! I won’t! Tapi saat liburan yang barusan, entah kenapa aku nurut aja waktu Mama ngajak aku ke dokter kulit untuk konsultasi. Sampai di kliniknya, aku deg-deg-an. I can’t loose this tiny-black-spot who had accompanied me for 20 years. It is a part of my life
Tapi aku tetap tenang karena aku yakin hari itu cuma konsultasi. Aku tidak akan kehilangan si item. Setelah menunggu dengan gugup, aku bertemu si dokter cantik.
Mama : Dok, ini.. Mau konsultasi tahi lalat di dagunya ini (Sambil menunjuk daguku)
Dokter : Ohh.. (Memeriksa tahi lalatku, actually she just touched it)
Dokter : Yaudah, coba di laser aja sekarang.
Aku : (What the..?? Heran.)
Mama : Diilangin sekarang dok? Nggak perlu operasi?
Dokter : Ya ngapain lama-lama. Ini sebenarnya nggak bahaya. Tapi bisa jadi berbahaya. Soalnya letaknya di wajah. Kalau kena matahari, sering dipegang atau digaruk, selnya bisa mutasi. Mending dilaser dulu aja sekarang.
Mama : Nggak dioperasi?
Dokter : Aduuh.. Jangan deh.. (She looked at me) Kalau dioperasi jelek. Bakal ada bekasnya. Apalagi kamu itu cewek. Nanti nangis. Sekarang di laser dulu aja seperempat. Diliat dulu seminggu, kalau nggak tumbuh lagi, kita laser semuanya.
Aku : Bengong.
Entah kenapa otakku begitu lama memproses kejadian itu. Dan aku nurut aja waktu si dokter ngutak-atik si item. So, that’s it. Tidak sampai dalam 10 menit, si item tinggal 3/4. Hiks
Sempat terbersit rasa sesal, tapi apa mau dikata. It was already late.
Dan sekarang si item udah pergi. Pergi untuk selama-lamanya. Dan tinggallah bekasnya yang belum sembuh walaupun sudah sebulan semenjak si item pergi. Aku merasa jahat. Maaf.. Aku buang kamu setelah 20 tahun. Please, don’t be angry. Don’t ever come back.
I really miss it, my fortune
Sedikit Mimpi dari ITB
29 Jul 2010 2 Comments
Saya ambil tulisan ini dari forum di kaskus. Tulisan ini dibuat oleh seorang legenda ITB, (Alm) Sigit Firmansyah, Elektro 2001. Mari sama-sama kita renungkan.
=======================================
Malam ini saya bertemu dengan seorang kawan yang
bercerita tentang academic excellent, mimpi-mimpi yang
kini telah mulai hilang dari kampus kami dan juga
semangat kerja keras yang mulai luntur. Kami berbagi
kesedihan dan keprihatinan tentang mutu pendidikan
yang makin turun, IPK adik-adik kami mahasiswa TPB
yang makin rendah, mahasiswa TPB yang mulai suka main
kartu di TVST, soal ujian Kalkulus yang makin mudah
dari tahun ke tahun dan juga mahasiswa yang mulai
kuliah dengan tidak serius.
Apa yang salah dengan kampus ini?
Kami rindu akan kampus yang dipenuhi dengan
orang-orang yang dengan penuh ambisi akademik ingin
selalu belajar, belajar dan belajar. Kami rindu akan
ruang-ruang perpustakaan yang dipenuhi orang, namun
tenang penuh keseriusan. Kami rindu bertemu mahasiswa
dengan pakaian sopan sederhana, yang uang dan waktu
nya telah tercurah untuk buku dan ilmu.
Bagi kami, ITB hampir-hampir kehilangan satu-satunya
aset terpenting yang seharusnya dimiliki yaitu :
“lingkungan akademik”. Lingkungan akademik yang
terpancar mulai dari segenap penjuru boulevard,
pojok-pojok kantin hingga laboratorium dan ruang
kuliah. Penjuru kampus harusnya dipenuhi dengan
manusia-manusia dewasa yang berinteraksi layaknya kaum
intelektual, berdiskusi dan bercerita tentang
mimipi-mimpi teknologi. Bukan penindasan dan
pembodohan.
Kampus ini sepertinya telah kehilangan orang-orang
yang ketika pertama kali menginjakkan kampus mempunyai
mimpi tentang membuat robot dan roket. Kampus ini
sepertinya telah kehilangan orang yang dikepalanya
dipenuhi mimpi-mimpi tentang mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Telah hilang orang-orang
yang mau memberikan segalanya untuk belajar.
Kami takut suatu saat nanti kampus ITB, menjadi tidak
lebih dari seperti SMU-SMU biasa yang berstatus
sebagai perguruan tinggi, namun isinya tetap saja
mahasiswa-mahasiswa gaul sok borjuis yang sama sekali
tidak memiliki etos kerja keras.
Kalau kampus kita sudah seperti itu, jangan sebut lagi
kampus ini dengan sebutan Institut Teknologi!
Kami yakin bahwa kebesaran bangsa ini, salah satunya
dibangun dari kampus ini, dan itu adalah kenyataan
sedih yang harus dihadapi.
Kami berdoa semoga mimpi buruk ini tidak pernah
terjadi…
Dan saya mohon siapapun yang membaca tulisan ini,
turut mengaminkan doa kami. Kami ingin yang membaca tulisan ini bersama kami
mengaminkan doa ini dengan tangan, kaki, cucuran
keringat dan air mata. Mengaminkan dengan penuh
kesungguhan yang juga disertai kerja keras dan
konsistensi. Tidak sekedar amin dalam kata-kata.
Karena,…… ITB adalah aku, kamu, kami dan kita.
Kelak kebesaran dan prestasi ITB adalah untuk
Indonesia tercinta.
=======================================
Kejadian di atas saya rasa hampir terjadi hampir di seluruh daerah, bukan hanya ITB. Saya jadi bertanya-tanya, sebegitu burukkah mutu pendidikan kita sekarang? Sebegitu melenceng kah mental mahasiswa Indonesia sekarang ini? Sebegitu berubahkah semangat juang masyarakat Indonesia? Saya jadi ingin terlahir kembali ke masa lalu. Merasakan aroma perjuangan yang begitu kental, merasakan semangat pendidikan yang luar biasa, merasakan keinginan yang menggebu untuk menciptakan perubahan. Suatu waktu dimana internet adalah sesuatu yang ajaib, komunikasi adalah hal yang sangat mahal, pendidikan adalah sesuatu yang langka dan sangat dihargai, dimana orang-orang sangat menghargai pendidikan, perjuangan, dan perubahan.
Sungguh saya merasa mau begitu membaca tulisan di atas. Sudah dua tahun saya lewati di kampus istimewa ini, dan saya merasa telah menyia-nyiakannya. Melewatkan amat sangat banyak. Seharusnya saya bisa melakukan, memberikan, dan sekaligus mendapatkan banyak hal disini. Dan penyesalanlah yang saya rasakan. Begitu banyaknya penyesalan.
- Mengapa saya nggak pernah total di unit?
- Mengapa saya nggak ngapa-ngapain di himpunan?
- Mengapa saya jarang ikut kepanitiaan?
- Mengapa saya menutup diri?
- Mengapa saya punya lingkup sosial yang sempit?
- Mengapa saya tidak mencoba mengenal lebih jauh tentang kampus hebat ini?
- Dan dengan kesibukan saya yang minim banget itu, mengapa saya tidak berprestasi dalam bidang akademik?
- Mengapa saya tidak pernah berpikir untuk menjadi seseorang? Seorang Vega yang dikenal orang karena sesuatu.
- Mengapa saya seakan-akan invisivible seperti ini?
- Mengapa saya menjadi mahasiswa biasa-biasa saja di kampus ini?
- Mengapa saya mengeluhkan hal-hal yang tidak penting sehingga melewatkan banyak hal?
- Mengapa saya selalai itu???
- Mengapa saya tidak pernah berusaha lebih keras?
- Dan mengapa-mengapa lainnya.
As the regret always comes late, I have to move on.
Tulisan sang legenda di atas menginspirasi saya. Apakah saya harus berubah? HARUS! Dalam benak dan pikiran saya telah tertanam kata change, bahkan sejak sebelum saya membaca tulisan ini. But how? Bagaimana caranya? This is the hardest part. Sering kali saya menemukan orang hebat, kejadian menggugah, ataupun kata-kata inspiratif seperti di atas, dan selalu saya katakan pada diri saya untuk bergerak. Saya harus berubah. Namun berulang kali pula saya melupakannya.
Jadi apa yang salah? Saya punya kemauan. Saya punya mimpi. Saya punya cita-cita. Tetapi mengapa saya masih begini-begini saja? Seperti jalan di tempat.
Usaha
Ya. Setinggi apapun mimpimu, tanpa usaha semuanya akan sia-sia. Seperti motor tanpa roda. Seperti robot tanpa mesin. Jadi,
bagaimana caranya?
Hatimu kawan
Hati? Ya. Hatimu! Kalbu. Heart. Apapun itu namanya, camkan didalamnya bahwa kamu ingin berubah. Sebutkan apa mimpimu. Biarkan hatimu merasakan kesungguhan kata-kata yang mengalir dari bibirmu. Biarkan seluruh tubuhmu mendengarnya. Biarkan mereka ikut merasakan semangat perubahanmu. Kalau perlu teriak. Teriak sekerasnya. Biar semua orang tahu. Biar semua orang yang mendengarnya menjadi saksi yang akan melihat kamu akan merubah negeri ini. Biar mereka tahu apa mimpimu. Biar mereka tahu bahwa mereka juga bisa berubah. Bahwa negeri ini, dunia ini, butuh orang-orang yang bisa membuat perubahan.
Camkan itu baik-baik kawan..
Masyarakat membutuhkan perubahan..
Negeri ini membutuhkan kita..
“It’s never too late to change”
Perasaan Mengganjal
27 Jul 2010 3 Comments
Nggak tahu kenapa belakangan ini saya sering merasa kesepian, merasa punya temen sedikit, merasa hidup saya datar-datar saja, dsb. Tiap buka facebook sepi. Buka twitter sepi. Kalau ke kampus juga sepi. Buka hape sepi. I feel lonely at all. I feel like I don’t have any motovation to do things.
Apa aku salah memiliki perasaan seperti ini?
Atau apa aku yang salah, sehingga memiliki perasaan ini?
Apapun itu, aku tahu semuanya terletak pada ku.
Terkadang saat sedih, aku sholat, kemudian menangis, dan hatiku menjadi nyaman.
Dalam sujud kurasakan betapa jauhnya jarakku dan Tuhan.
Betapa banyaknya dosa yang aku perbuat.
Betapa sering aku lari dari-Nya.
Betapa hinanya aku.
Saat senang aku melupakan-Nya. Dan saat bersedih aku mengadu pada-Nya.
Ketika dia melimpahkan rahmat-Nya, betapa aku sering lupa berterimakasih. Dan ketika Dia menyembunyikan nikmatnya dariku, barulah aku mengingat-Nya, mengadu pada-Nya.
Tidakkah itu hina?
Umurku 20 sekarang dan aku merasa seperti menyia-nyiakannya.
Selalu merasa bahwa aku kekurangan. Kurang beruntung dibanding makhluk-Nya yang lain, kurang bahagia, dan kekurangan-kekurangan lainnya. Aku selalu melihat ke atas. Padahal jika aku mencoba untuk melihat ke bawah, aku akan tahu betapa baiknya Sang Pencipa telah memberiku nikmat yang begitu banyak. Keluarga yang utuh. Harta yang cukup. Kesehatan. Teman. Kecerdasan. Walaupun masih ada beberapa kekurangan di antara itu semua. Namun semua itu adalah rahmat-Nya, yang hanya dengan satu jentikan jari bisa Dia ambil dariku. Tapi Dia masih memberikannya untukku. Dan sepantasnyalah aku bersyukur
Tiba-tiba aku merasa bodoh. Dengan nikmat-Nya yang begitu banyak, aku masih merasa kurang. Kurang bahagia, kurang teman, kurang motivasi, kurang, kurang, dan kurang. Astaghfirullah, maafkan aku Ya Allah.
Mungkin aku harus lebih sering-sering baca Al-Quran dan tafsirnya. Seperti penggalan ayat di bawah ini. Yang membuatku bersemangat kembali. Surah Ar-Rahman ayat 1-16
(1) Allah Yang Maha Pengasih.
(2) Yang telah mengajarkan Al-Qur’an.
(3) Dia menciptakan manusia,
(4) mengajarnya pandai berbicara.
(5) Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.
(6) dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya).
(7) Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan kesimbangan,
(8) agar kamu jangan merusak keseimbangan itu.
(9) Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.
(10) Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)
(11) di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,
(12) dan biji-bijan yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.
(13) Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
(14) Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.
(15) Dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap.
(16) Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
People says about love.
22 Apr 2010 Leave a Comment
in Uncategorized Tags: cinta, Love, poem, puisi
I’ve just read these in my friends note in FB.
I like it X)
Which one do I prefer from these four?? hmmm,,,
********
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
( aku ingin, Sapardi Djoko Damono )
Aku ingin mencintaimu dengan membabi buta
Dengan sebotol racun yang diteguk romeo
Tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi
Aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta
Dengan sebilah belati yang ditikamkan Juliet
Ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi.
( aku ingin, Saut Situmorang )
aku ingin mencintaimu dengan apa adanya
dengan laku yang tak diikrarkan
angin kepada ranting kering yang menjadikannya sunyi.
aku ingin mencintaimu dengan apa adanya
dengan waktu yang tak dikabarkan
hujan kepada matahari yang menjadikannya pelangi.
( aku ingin, Syaiful Alim )
aku ingin mencintaimu dengan kata “meskipun dan walaupun..”
bukan “karena dan sebab…”
(someone unknown)
********
~Love sees but doesn’t mind, by Author unknown~
